Asw
Saatnya melankolia!
Sekarang saya akan membahas hobi saya yang kadang selalu terlupakan. Guess what?
Ookaa dan Koran pr hari sabtu tau dengan jelas hal ini…
Yep, poetry!
Hoo. Mungkin sebagian orang tidak menyangka, menduga, dan mengira saya bisa punya hobi yang berkaitan dengan dunia kepuitisan. Tapi memang kenyataannya begitu kok, saya dulu sempat menulis berlembar-lembar , ehm, puisi. Sampai bulan-bulan yang lalu, saya masih menulis beberapa lembar puisi. Tapi karena kurang konsisten, secara dalam pembuatannya saya sangat mengandalkan mood dan inspirasi, jadi puisi-puisi saya yang baru kurang ‘menggigit’, hehe. Sekarang, karena penyakit saya dating, saya off dulu dari pengerjaan puisi.
Talking about poetry, saya juga penikmat puisi-puisi yang diterbitkan di Koran PR setiap hari sabtu, yang kolomnya sebelahan dengan kolom cerpen itu lohh. Yahh, saya bukan penikmat sastra sejati juga. Jadi hanya mengandalkan yang ada di depan mata. Namun menurut saya, apa yang di depan mata itu rupanya sudah cukup dapat memuaskan ketertarikan saya untuk menikmati puisi. Hmm. Kalau saya ingat-ingat lagi, ada satu puisi yang pernah saya bahas dengan teman saya. Saya sih, suka dengan kata-kata yang dipakai si penulis waktu menggambarkan ke’bertepuk-sebelah-tangan’-an dia dengan “melempar batu ke jurang”. Tapi teman saya mati-matian menganggap itu biasa saja, bahkan, dia sama sekali tidak suka dengan perumpamaan “melempar batu ke jurang” itu. Dia bilang: “ihh kaya ga ada kerjaan aja, lempar-lempar batu, ke jurang lagi.”
Lain waktu, saya pernah dibuat menangis dan sangat sakit waktu membaca puisi yang berkisah tentang hidup. Satu bait yang membuat saya amat-amat, amat-amat, hmm, sakit yaitu:
“Adakah sisa nyawaku untuk-Mu semata? ”
Teringat akan kesalahan-kesalahan dan semua hal yang pernah saya lewatkan begitu saja. Sedih dan sakit banget lah. Tapi menyadarkan juga. Saya bener-bener sadar adanya the power of words. Dan lagi, pernah terpikir kan pasti. Manusia saja mampu membuat manusia lain terkesan, sedih, atau bahagia tak terkira lewat kata-kata yang ditulisnya, apalagi Dia, Sang Maha Pencipta. Subhanallah..
Lalu-lalu, saya lanjutkan yah.
Ada lagi beberapa bait favorit saya, yang saya foto dari ‘dokumen’ aslinya. Tapi malas saya upload,karena keterbatasan kuota. akhirnya saya ketik ulang. Here they are:
Belajarlah kepada malam
Dan jagalah kisah cahaya bulan
Yang mampir di jendela hatimu
(belajarlah kepada malam—lukman asya)
Lalu lalu:
Ketika aku mendengar kisah cinta pertamaku,
Mulailah aku mencarimu, tanpa sadar betapa maya pencarian itu.
Pada akhirnya, sepasang kekasih tidaklah berjumpa di tempat tertentu,
Sepanjang waktu, di dalam hati mereka menyatu
(Rumi)
Puisi karya Lukman Asya di atas, itu saya baca di Koran PR edisi xx tahun 2008, hari sabtu tentunya. Sedangkan puisi kedua saya dapat dari novel ‘Taj Mahal’ karya John Shors yang menyertakan puisi tersebut di halaman pembukanya.(more to know about Rumi… click here
Tetapi, sampai sekarang, buku puisi yang jadi favorit saya adalah Tafakur: Gado-Gado Simpang Lima karya M. Agung Wibowo. Eight out of ten deh! Coba klik aja disini
akhir kata, puisi itu indah lho, cobalah kenalan dan menikmatinya… lebih baik lagi jika kita bisa membuatnya, bagaimana pun hasilnya.
sebagai seorang pemula dan seorang penikmat puisi seadanya, saya ucapkan terima kasih untuk semuanya, anda yang baca, puisi yang tercipta, para poet, dan Allah Swt, karena telah meminjamkan sedikit kekuatan-Nya untuk kita, dalam pembuatan kata-kata yang indah itu.
alhamdulillah
wasswrwb
njou.nyo